Kondisi laut yang dinamis, jarak yang jauh dari bantuan darat, serta jumlah penumpang yang besar menuntut kesiapsiagaan awak kapal dalam menghadapi berbagai potensi keadaan darurat. Kesiapan tersebut menjadi garda terdepan dalam memastikan keselamatan penumpang, awak kapal, dan operasional pelayaran. Oleh karena itu, latihan kondisi darurat dilaksanakan secara berkala dan terstruktur sebagai bagian dari upaya memperkuat budaya keselamatan serta meningkatkan kesiapsiagaan seluruh awak kapal.
Dalam rangka meningkatkan standar keselamatan pelayaran, kesiapsiagaan operasional, serta kompetensi awak kapal dalam menghadapi kondisi darurat di laut, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) I Kelas Ambon bersama PT PELNI (Persero) Cabang Ambon melaksanakan General Emergency Drill pada Jumat (11/9).
Latihan tersebut dilaksanakan di Pelabuhan Yos Sudarso Ambon dengan melibatkan KM Pangrango dan Kapal Perintis KM Sabuk Nusantara 106. Kegiatan ini dirancang untuk menguji kesiapan awak kapal dalam merespons kondisi darurat secara cepat, tepat, dan terkoordinasi, sekaligus memastikan prosedur keselamatan dapat diterapkan sesuai ketentuan yang berlaku.
Dalam skenario latihan, kapal diasumsikan sedang berlayar dari Pelabuhan Banda menuju Pelabuhan Ambon. Pada posisi 06°00’53” LS / 130°18’18” BT, sekitar pukul 14.00 WIT, kapal dengan jumlah penumpang sebanyak 400 orang dan 50 awak kapal mengalami insiden kebakaran di bagian haluan. Dalam skenario tersebut, kebakaran diasumsikan terjadi di palka depan dan ditemukan seorang korban mengalami cedera di area lain. Upaya pemadaman yang dilakukan oleh awak kapal tidak berhasil mengendalikan api, sehingga Nakhoda kemudian memutuskan untuk melaksanakan abandon ship drill.
Pelaksanaan latihan mencakup tiga skenario utama yang dilaksanakan secara terpadu, yaitu penanganan kebakaran, pertolongan terhadap korban cedera, serta prosedur evakuasi dan penyelamatan melalui abandon ship.
Skenario pertama merupakan penanganan kebakaran yang diawali dengan deteksi dini oleh petugas keamanan yang sedang berjaga, dilanjutkan dengan pelaporan secara berjenjang kepada anjungan dan nakhoda, pembunyian alarm, serta upaya pemadaman menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) dan sistem hydrant. Dalam proses tersebut, petugas pemadam mengenakan fireman outfit lengkap sesuai prosedur keselamatan.
Skenario kedua berfokus pada pertolongan terhadap awak kapal yang mengalami cedera. Tim kesehatan melakukan simulasi penanganan awal terhadap korban di area terdampak kebakaran, termasuk proses evakuasi korban ke lokasi yang aman serta koordinasi dengan pihak darat untuk menyiapkan dukungan tim medis dan ambulans.
Sementara itu, skenario ketiga merupakan prosedur abandon ship yang dilaksanakan setelah api diasumsikan tidak dapat dikendalikan. Nakhoda kemudian memberikan perintah untuk meninggalkan kapal dan mengaktifkan alarm abandon ship. Proses tersebut diawali dengan pembunyian alarm tujuh suling pendek dan satu suling panjang, dilanjutkan dengan penyiaran Mayday oleh Mualim III, pengamanan dokumen dan peralatan vital kapal seperti VDR, ECDIS, EPIRB, dan SART, hingga proses penurunan sekoci.
Melalui pelaksanaan General Emergency Drill ini, PELNI bersama KSOP I Kelas Ambon terus memperkuat kesiapsiagaan awak kapal dalam menghadapi berbagai kondisi darurat. Latihan tidak hanya menjadi sarana untuk menguji penerapan prosedur, tetapi juga memastikan setiap personel memahami peran, tanggung jawab, serta tindakan yang harus dilakukan secara cepat dan terkoordinasi demi mengutamakan keselamatan dalam setiap pelayaran.
Selain itu, latihan juga mencakup skenario Man Overboard (MOB) atau orang jatuh ke laut. Dalam skenario tersebut, regu darurat dengan sigap melakukan tindakan awal dengan melemparkan pelampung kepada korban, mengaktifkan tombol MOB pada GPS untuk menandai posisi korban, serta melaksanakan upaya penyelamatan menggunakan sekoci di bawah komando Mualim I. Skenario ini bertujuan menguji kecepatan respons, koordinasi antarpersonel, serta kesiapan awak kapal dalam melakukan penyelamatan korban di laut.
Pelaksanaan latihan secara rutin tidak semata-mata menjadi pemenuhan terhadap ketentuan keselamatan pelayaran, tetapi juga merupakan bagian dari upaya membangun dan memperkuat budaya keselamatan (safety culture) di seluruh armada PELNI. Melalui simulasi dengan skenario majemuk, mulai dari kebakaran, penanganan korban cedera, evakuasi, hingga Man Overboard, setiap awak kapal dilatih untuk mampu merespons kondisi darurat secara cepat, tepat, terkoordinasi, dan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan.
Di sisi lain, latihan ini juga menjadi sarana untuk memastikan seluruh peralatan dan sarana keselamatan (Life-Saving Appliances) berada dalam kondisi siap digunakan serta dapat dioperasikan secara efektif ketika dibutuhkan.
Melalui pelaksanaan General Emergency Drill di KM Pangrango, PELNI kembali menegaskan komitmennya untuk menjadikan keselamatan sebagai prioritas utama dalam setiap kegiatan operasional. Kesiapsiagaan yang dibangun melalui latihan secara konsisten diharapkan mampu memastikan seluruh awak kapal siap menghadapi berbagai kondisi darurat, sekaligus memberikan rasa aman bagi setiap penumpang yang menggunakan layanan transportasi laut PELNI.







